PROFIL

1. Awal Berdiri

Beberapa tahun yang lalu di tempat ini (Nangger, Kembang Jeruk) terdapat seorang ulama kharismatik yang sangat peka terhadap situasi dan kondisiumat sekitarnya. Beliau  yang menyandang nama agung  “KH. Muntaha bin Abdul Mannan”.

Pada tahun 1938 cikal bakal Pesantren  Nurul Huda adalah Pesantren yang berbentuk langgar (Musholla) serta santri kalongan (mosengan) yang di asuh oleh KH. Azhari yang kemudian menjadi mertua beliau.

Saat itu, di desa ini masyarakat bisa di bilang masyarakat primitif dalam bidang ilmu pengetahuan,begitu minim mereka yang memahami akan ilmu syariat sehingga beliau mempunyai inisiatif untuk mendirikan suatu media pendidikan, dan tepatnya pada tahun 1951 di bangunlah Pondok Pesantren Salafy Nurul Huda untuk memajukan peribadatan, pendidikan syariat dan dakwah islamiyah dengan faham Ahlusunnah Weljemaah yang berdasarkan lima pegangan pokok yaitu Al-qur’an , Al-hadis,Al-ijma’,Al-qias, dan Al-uruf juga berdasarkan pancasila dan UUD 1945.

Lambat laun perkembangan Pondok Pesantren Salafy Nurul Huda semakin pesat, nama Pondok Pesantren Salafy Nurul Huda semakin jauh menyebar kemana-mana, mulailah berdatangan dari berbagai daerah diluar desa Kembang Jeruk santri yang ingin mengenyam pendidikan dan menetap disana, dibawah kepemimpinan KH. Muntaha Bin Abdul Mannan. Laju perkembangan pesantren semakin meningkat baik kualitas santri maupun kualitas pendidikannya, itu terbukti dengan berhasilnya para alumni yang sudah menyebar diberbagai daerah.

Sejak KH. Muntaha Bin KH. Abdul Mannan Wafat pada tahun 1972, maka estavet kepemimpinan Pondok Pesantren Salafy Nurul Huda digantikan oleh putra beliau KH. Abdul Mannan Muntaha Bin KH. Muntaha Bin KH. Abdul Mannan, pada masa itu perkembangan pesantren terus meningkat, sistem dan metodepun dibenahi dengan mendirikan Madrasah Ibtidaiyah Diniyah pada tahun 1978, dan Madrasah Tsanawiyah Diniyah pada tahun 1986. Pada tahun 1989 didirikan pula Pondok Pesantren Putri Salafiyah Al-Maimunah yang diasuh oleh adik kandung beliau yakni KH. Zainal Abidin Muntaha.

Wafatnya KH. Abdul Mannan Muntaha

Minggu pagi 16 September 2012 seolah menjadi hari terberat bagi keluarga besar PPSNH dan para santri. Karna pada saat itu tuhan begitu merindukan kekasihnya yang menyandang nama agung KH. Abdul Mannan Muntaha. Dan pada minggu itu sang ulama’ kharismatik pantura berpulang ke rahmatullah.

Berita duka wafatnya KH. Abdul Mannan dengan sekejap tersebar ke sentro daerah. Sontak, desa Nangger menjadi lautan manusia dengan butir-butir bening kesedihan di dalamnya. Kehisterisan terjadi di sana-sini karna para keluarga , santri, dan alumni serta simpatisan masih belum siap untuk berpisah dengannya.

Tujuh hari dari wafatnya masih terasa kesepian , kehilangan, dan duka masih belum menemukan pelipur lara. KH. Ushuluddin putra ke-2 beliau mampu membaca hal ini di wajah para santrinya. Saat itu juga setelah sholat berjema’ah maghrib beliau mengumpulkan santri di Mushola dengan duduk bersila tepat di tempat biasa Al-Marhum Al-Maghfirulloh mengajar. Beliau memberikan petuah, motivasi pada santri layaknya KH. Abdul  Mannan Muntaha.

Dalam motivasinya  beliau bertutur “Kita harus sudahi kesedihan ini, kita harus bangkit kembali, kita harus nyalakan semangat yang sempat redup, dengan begini kita tidak terlalu terpuruk karana di tinggalkan beliau. Sejatinya Beliau (KH. Abdul Mannan Muntaha) tidak pergi meninggalkan kita, beliau masih menemani hari-hari kita, karna kepergian seorang alim tetap dianggap hidup”. Beginilah penggalan motivasi KH. Ushuluddin untuk menyalakan kembali motivasi para santri.

Kepemimpinan KH. Imam Ubaidillah

Laksana lilin yang terang dalam kegelapan. Bak tetesan zam-zam di padang sahara dan ibarat sinar matahari bagi umat-umat yang tinggal di daerah kutub bumi. KH. Imam Ubaidillah datang sebagai penerang, penyemangat bagi santri.

Beliau berperan sebagai pengasuh PPSNH ke-4. Kiai yang menjabat sebagai ketua DPRD kabupaten Sampang ini sebenarnya menjabat sebagai pengasuh pada tahun 2011 tepat satu tahun sebelum  wafatnya KH. Abdul Mannan Muntaha. Beliau menjadi pengasuh karna diamanatkan ayahandanya, mungkin hal itu menjadi isyarat akan kepergian KH. Abdul Mannan. Pada kepemimpinan Beliau  metode pendidikan semakin dibenahi. Di bidang pendidikan nonformal didirikan asrama Amtsilati dan dibidang formal didirikan SMK An-Nur Al-Muntahy, dengan jurusan TKJ (2012) dan TSM (2015). Tidak sampai di situ, demi memfasilitasi semua kebutuhan santri beliau juga mendirikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) An-Nur meski dalam hal ini sudah ada MTs An-Nur.

PPSNH merupakan sarana pendidikan yang ada dibawah naungan Yayasan Al-Muntahy. Sebuah yayasan sosial pendidikan Islam yang bergerak di bidang pendidikan demi terciptanya kader-kader bangsa yang kompeten, kreatif dan inovatif, sehingga diharapkan jebolan atau alumni PPSNH mampu menjawab tantangan zaman, tanpa meninggalkan setatusnya sebagai santri.  PPSNH didirikan oleh KH. Azhari dan KH. Muntaha. Dilanjutkan oleh KH. Abdul Mannan Muntaha dan sekarang diasuh oleh KH. Imam Ubaidillah. Dari tahun ketahun PPSNH mengalami peningkatan santri baik itu dari daerah madura ataupun dari luar madura yang ingin mengenyam pendidikan di PPSNH.

 

 

*sumber ini dikutip dari buku pedoman PPS Nurul Huda

 

Social Media

Pencarian

Galeri Video

  • YouTube
  • YouTube
  • YouTube

Kontak Kami

header.png
  • Telepon : 085724609999, 085258519999
  • Email : yayasan.almuntahy@gmail.com
  • Alamat : Jl. KH Muntaha - Kembang Jeruk Banyuates Sampang

Polling

  • Menurut anda website ini bagus ga?
  • Sangat Bagus
  • Bagus
  • Kurang Bagus
  • Tidak Bagus
Lihat Hasil

Hasil Polling

Sangat Bagus
56.9%
Bagus
28%
Kurang Bagus
15.2%
Tidak Bagus
0%